Postingan

#Beropini Eps. 6 | Sebuah Refleksi Tentang Hubungan Sosial

Saya adalah seorang individu yang sering bertemu banyak orang. Entah karena sifat ekstrovert saya atau karena kegiatan yang saya geluti, seperti kuliah, pekerjaan, dan aktif dalam berbagai organisasi, setiap hari saya berjumpa dengan berbagai macam individu. Seiring berjalannya waktu, saya telah mengenali banyak orang, dan sebaliknya, banyak orang juga mengenali saya. Namun, ketika ditanya oleh orang lain apakah saya memiliki banyak teman, saya selalu memberikan jawaban yang sedikit berbeda dari yang mungkin diharapkan. Saat seseorang bertanya, "Eh, kamu kenal dia gak?" atau "Dia temanmu ya?" atau bahkan "Kamu banyak banget punya teman ya?" saya selalu menjawab dengan hati-hati, "Oh, iya, aku kenal dia. Dia adalah kolega kerjaku," atau "Dia adalah teman sekelas di kampus," atau mungkin "Dia adalah rekan sesama dalam organisasi." Namun, ada satu kata yang jarang saya gunakan dalam konteks ini: "teman." Mengapa saya me...

#Beropini Eps. 5 | Cewek Teknik itu Tangguh?

K atanya cewek teknik itu tangguh-tangguh. Benar gak sih?  Kuliah dijurusan yang didominasi oleh cowok mungkin tidaklah mudah bagi cewek. Harus kuat. Karena kalau gak kuat ya bakal keseleksi alam. Tugas bejibun dari dosen yang kadang deadline-nya gak manusiawi, praktikum yang banyak mengeluarkan tenaga dalam (kayak dukun dong haha), laporan akhirnya yang setinggi gunung Everest (ini lebay sih kata gua), belum lagi pengkaderannya yang uwow merusak mental health (ini serius mah).  Bahkan sering kali cewek teknik dicap tomboy. Pasti jiwanya kayak laki-laki, kudu tangguh. Tapi kalo di teknik sendiri mah gak pernah dicap tomboy, karena katanya diteknik itu cowok semua haha.  Setangguh apapun cewek teknik pasti hatinya juga rapuh. Butuh support system, gak bisa sendiri, dan mandirinya itu bohong. Tapi aku sebagai cewek teknik merasa banyak serunya sih. Pertama, teman yang solid.  Semester 1 - 4 kita dikader untuk menjadi solid. "Teknik itu Satu." Satu susah, semua juga iku...

#Bercerita Eps. 2 | 21 tahun

Menginjak usia 21 tahun bingung hidup mau dibawa kemana. Kuliah semester akhir, struggle sama skripsi, mau cepat-cepat lulus, tapi gak tau mau ngapain habis lulus.  Karena rasanya semua mimpiku sudah terkubur dalam-dalam. Pertama, karena tidak ada dukungan keluarga. Kedua, emang gak beruntung disana keknya. Sekarang rasanya hidup hanya sekedar bernapas. Ngeliat pencapaian orang lain usia 21 tahun kok keren-keren banget ya. Apalagi karir dan impiannya di-support sama keluarga. Gua mah boro-boro, keluarga aja gak punya. Ada sih, tapi udah bubar hahaha. Ah, sudahlah. Kebanyakan ngeluh. Seng penting tetaplah bernapas! 

#Bercerita Eps. 1 | Nanti

Nanti, di sebuah rumah minimalis bertembok putih dan berornamen kayu. Kau akan lebih sering melihatku mengenakan daster dengan motif yang berbeda-beda. Kuharap, kau selalu menatapku istimewa meski semakin hari tampilanku kian sederhana.  "Mau dibawakan bekal apa?" tanyaku setiap pagi.  Takkan kubiarkan isi lambungmu mengempis, meski dompetku tipis.  Takkan kubiarkan kau diece temanmu hanya karena bekalmu indomie goreng dan nasi putih. Takkan kubiarkan masakan ibu kantin mengambil alih isi perutmu.  "Hari ini kamu kelihatan lelah ya. Aku sudah siapkan makanan kesukaanmu di meja makan." Sambil membawakan tasmu saat kau pulang ke rumah.  Aku tak merasa lelah… Demi bisa memberikan yang terbaikmu untukmu.  Demi bisa melihatmu ceria sepanjang hari. Demi bisa membuatmu merasa beruntung, karena memiliki aku. Bismillah, aku akan berusaha menjadi seorang yang terbaik untukmu, Nak!   

#Beropini Eps. 4 | Nyari Pembantu Berkedok Nyari Istri

Tadi malam aku bincang-bincang hangat bersama 4 orang teman SMAku. Sudah beberapa tahun ini kami tak pernah bertemu. Kami punya kesibukan masing-masing. Ada yang tengah melanjutkan pendidikan, kerja, dan melanjutkan bisnis bapaknya.  Saking lamanya ngobrol, sampailah pada pembahasan pasangan. Ternyata teman-temanku ini sudah punya pasangan semua. Ya, gue no comment sih. Lalu seorang teman lelakiku berucap, "Gue keknya dalam waktu dekat ini mau nikah deh." Aku kaget. Ya, karena menurutku seorang lelaki yang baru genap berusia 22 tahun masih sangat labil mengelola dalam emosi untuk memulai membangun rumah tangga. Aku tau, dia anak orang kaya, kerjaan juga ada, jadi gak mikirin lagi soal duit. Tapi apakah hanya faktor ekonomi saja untuk persiapan membina rumah tangga? "Lo seriusan mau nikah?" tanyaku dengan kebingungan antara yakin dia serius atau hanya becanda doang.  "Lo kan tau sekarang posisi gue gimana? Nyokap gue udah meninggal dan gue cuma berdua doang sama...

#Beropini Eps. 3 | Bhinneka Tunggal Ika

Berbeda-beda tetapi tetap satu, itulah Indonesia. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Keragaman yang ada di Indonesia adalah kekayaan dan keindahan bangsa Indonesia. Keragaman merupakan modal sosial dan potensi dalam membangun bangsa, namun jika tidak bisa dikelola dengan baik, maka potensi tersebut akan berubah menjadi ancaman bagi keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hingga saat ini kita masih menyaksikan beberapa sikap, tindakan, dan perilaku masyarakat yang berpotensi mengancam keutuhan NKRI, yakni: tindakan radikal, kekerasan, dan intoleran yang menyebabkan terjadinya konflik sosial, dominasi dan diskriminasi mayoritas terhadap minoritas bahkan pemaksaan sehingga hak-hak mereka terpinggirkan, dan kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai kebhinekaan/multikultural dalam kehidupan masyarakat. Ditambah diera teknologi saat ini menjadi tantangan baru untuk saling bertoleransi antar sesama. Ki...

#Beropini Eps. 2 | Indonesia, Negara Tanpa Ayah

  Melansir id.theasianparent.com , Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara fatherless terbanyak di dunia. Tentu ini bukanlah sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Isu fatherless mungkin belum begitu familiar ditelinga kita, namun isu ini cukup besar di Indonesia. Fatherless adalah ketiadaan peran dan figur ayah dalam tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikologis. Fenomena ini biasa terjadi karena budaya patriarki yang beranggapan bahwa yang berperan dalam tumbuh kembang anak hanyalah seorang ibu. Sedangkan ayah bekerja diluar mencari nafkah. Padahal ayah juga memiliki peran penting bagi seorang anak, terutama dalam mendukung perkembangan kognitif dan perilakunya hingga tumbuh dewasa. Tapi tak jarang banyak ayah yang mengatakan, "Saya sudah capek-capek kerja nyari nafkah buat keperluan rumah, masa saya juga harus mengurus anak. Kapan waktu istirahatnya?" Memang benar mencari nafkah itu lelah. Namun ketimpangan pengasuhan orang tua dapat mengakibatkan ana...