#Beropini Eps. 4 | Nyari Pembantu Berkedok Nyari Istri
Tadi malam aku bincang-bincang hangat bersama 4 orang teman SMAku. Sudah beberapa tahun ini kami tak pernah bertemu. Kami punya kesibukan masing-masing. Ada yang tengah melanjutkan pendidikan, kerja, dan melanjutkan bisnis bapaknya.
Saking lamanya ngobrol, sampailah pada pembahasan pasangan. Ternyata teman-temanku ini sudah punya pasangan semua. Ya, gue no comment sih. Lalu seorang teman lelakiku berucap, "Gue keknya dalam waktu dekat ini mau nikah deh."
Aku kaget. Ya, karena menurutku seorang lelaki yang baru genap berusia 22 tahun masih sangat labil mengelola dalam emosi untuk memulai membangun rumah tangga. Aku tau, dia anak orang kaya, kerjaan juga ada, jadi gak mikirin lagi soal duit. Tapi apakah hanya faktor ekonomi saja untuk persiapan membina rumah tangga?
"Lo seriusan mau nikah?" tanyaku dengan kebingungan antara yakin dia serius atau hanya becanda doang.
"Lo kan tau sekarang posisi gue gimana? Nyokap gue udah meninggal dan gue cuma berdua doang sama bokap gue di rumah. Gak ada yang masak, gak ada yang nyuci baju dan rumah berantakan terus karena gak ada yang ngurus." Jawabnya dengan mata berbinar menahan tangis.
"Hahaha. Bilang aja lo mau nyari pembantu," jawabku kesal.
"Gue jadi yakin buat gak nikah deh. Gue gak mau jadi pembantu laki-laki. Kebanyakan laki emang gitu ya? Nyari istri sekaligus spek pembantu." Lanjutku dengan sedikit emosi.
Malam itu aku benar-benar kesal. Apalagi saat semuanya setuju kalau kodratnya wanita memang soal kerjaan rumah.
Pernyataan seperti ini sudah sering kali aku dengar dari mulut laki-laki. Aku benci bgt sama kalimat itu. Mungkin juga karena aku pernah mendengarnya dari mulut bapakku sendiri. Aku jadi mikir, emang kodrat wanita memang soal masak, nyuci baju, berberes rumah ya? Kalau iya, aku milih buat gak nikah deh.
Komentar
Posting Komentar