#Beropini Eps. 2 | Indonesia, Negara Tanpa Ayah
Melansir id.theasianparent.com, Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara fatherless terbanyak di dunia. Tentu ini bukanlah sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Isu fatherless mungkin belum begitu familiar ditelinga kita, namun isu ini cukup besar di Indonesia.
Fatherless adalah ketiadaan peran dan figur ayah dalam tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikologis. Fenomena ini biasa terjadi karena budaya patriarki yang beranggapan bahwa yang berperan dalam tumbuh kembang anak hanyalah seorang ibu. Sedangkan ayah bekerja diluar mencari nafkah. Padahal ayah juga memiliki peran penting bagi seorang anak, terutama dalam mendukung perkembangan kognitif dan perilakunya hingga tumbuh dewasa.
Tapi tak jarang banyak ayah yang mengatakan, "Saya sudah capek-capek kerja nyari nafkah buat keperluan rumah, masa saya juga harus mengurus anak. Kapan waktu istirahatnya?" Memang benar mencari nafkah itu lelah. Namun ketimpangan pengasuhan orang tua dapat mengakibatkan anak memiliki kepercayaan diri yang rendah, lebih agresif, adanya perasaan marah, malu karena berbeda dengan anak-anak lain dan tidak dapat mengalami pengalaman kebersamaan dengan seorang ayah yang dirasakan anak-anak lainnya. Kehilangan peran ayah juga menyebabkan seorang anak akan merasakan kesepian, pemurung, kecemburuan, merasa kehilangan yang amat sangat, rentan menjadi pribadi yang pendiam, hingga lebih mudah stress dan depresi.
Sementara itu Hart (dalam Abdullah, 2010) menjelaskan bahwa peran ayah diantaranya:
1). Memenuhi kebutuhan finansial anak untuk membeli segala keperluan anak.
2). Teman bagi anak termasuk teman bermain.
3). Memberi kasih sayang dan merawat anak.
4). Mendidik dan memberi contoh teladan yang baik.
5). Memantau atau mengawasi dan menegakkan aturan disiplin.
6). Pelindung dari resiko atau bahaya.
7). Membantu, mendampingi, dan membela anak jika mengalami kesulitan atau masalah.
8). Mendukung potensi untuk keberhasilan anak.
Ayah sangat berperan penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Untuk memiliki anak yang cerdas dan berani perlu adanya peran dari kedua orang tua. Maka mari kita hilangkan stigma bahwa pengasuhan anak hanya tugas seorang ibu.
Penulis:
Nahda Ampia Maulani
Komentar
Posting Komentar