#Beropini Eps. 1 | Kenapa Pria Jarang Nangis?

"Cowo kok nangis sih?" 
"Udah nggak usah nangis, gitu aja nangis. Cengeng banget sih kamu, kayak cewe" 
"Diih cowo nangis. Lemat bgt!" 
Pasti stereotip ini sudah tidak asing lagi kan ditelinga kita? 

 Yap, pria dituntut untuk kuat dan menangis adalah suatu bentuk kelemahan. Sedangkan wanita boleh-boleh saja menangis karena itu dinilai sebuah bentuk feminine. Sehingga pria merasa menangis adalah hal yang dapat merendahkan harga diri mereka dan tidak masculine. Inilah bentuk dari budaya patriarki yang tanpa disadari masih ada hingga sekarang. 

Secara biologis, memang benar pria memiliki saluran air mata yang lebih kecil dan lebih banyak testosteron yang dapat menghambat tangisan. Namun secara psikis, pria jarang nangis (tidak mau menangis) karena adanya stereotip tadi dari masyarakat. Hingga mereka membatin, "ih aku nggak boleh nangis karena aku pria."

Aku perempuan dan punya sepupu laki-laki seumuran. Sekitar umur 5 tahun kita sering banget main berdua. Namanya juga anak kecil pasti mainnya lari-larian dan nggak bisa diam. Karena nggak hati-hati kami berdua sama-sama jatuh. Ya pasti kami nangis dong. Nah, keluargaku malah cuma ngegendong dan tenangin aku. Sedangkan sepupuku malah dibilang gini, "Udah... nggak usah nangis. Masa cowo nangis, kayak cewe aja." 

Aku juga pernah mendengar perkataan yang sama ketika aku masih SD. Ada teman laki-lakiku nangis karena kena bola. Guruku nenangin dia dengan kalimat "Jangan nangis lagi! Udah sembuh nih. Anak laki-laki itu nggak boleh cenggeng. Emang mau ibu guru pakein kamu rok aja?" 

Maka tersimpanlah dipikiranku dan (mungkin) kita bahwa menangis adalah suatu bentuk feminine dan ketika ada pria yang menangis berarti ia lemah dan tidak masculine. Padahal menangis adalah cara seseorang mengekspresikan perasaan dan bisa menurunkan tingkat stress. Jadi pria cenderung memendam perasaannya. Akibatnya bisa membawa pikiran negatif dalam tubuh yang dapat menganggu keseimbangan hormon dan memburuk kondisi mental. Sehingga jadi mudah stress dan depresi karena terbiasa menahan emosi dan memiliki kecenderungan menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketika emosinya memuncak dan tidak terbiasa mengeluarkannya, akhirnya banyak pria yang memilih mengakhiri hidupnya.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 700.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Sementara itu, American Foundation for Suicide Prevention (AFSP) memaparkan fakta mengejutkan, yaitu laki-laki yang meninggal karena bunuh diri 3,88 kali lebih banyak daripada perempuan. 

Aku sangat tidak setuju kalau menangis itu tanda bahwa kita lemah. Baik laki-laki maupun perempuan berhak untuk mengekspresikan perasaannya. Jadi mari kita hilangkan toxic masculinity itu dan menormalisasi pria yang menangis bukan berarti lemah, tapi karena pria juga manusia bukan robot. 



Penulis:
Nahda Ampia Maulani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Beropini Eps. 2 | Indonesia, Negara Tanpa Ayah

#Beropini Eps. 3 | Bhinneka Tunggal Ika